Thursday, 30 April 2009

INTEGRITAS CALON PROFESIONAL

Seorang mahasiswa magang, berkulit hitam manis datang dengan penampilan dasyat, berstoking warna hitam, bersepatu wedges, berpakaian modis, rambut di cat warna tak jelas dan full make up. Tidak masalah. Masalah baru muncul saat si mahasiswa fikom dari salah satu universitas ternama ini tidak mampu mengoperasikan komputer, bahkan hanya sekedar untuk mengetik data sederhana menggunakan program ms. word. Pekerjaannya sepanjang hari lebih banyak memandang cermin lipat yang ia letakkan di atas meja kerjanya dan mematut diri. Ritual make up correction-nya ini jauh lebih sering ketimbang merampungkan tugas rutinnya menyelesaikan kliping setiap hari sebelum pukul 10.00 pagi.

Di masa sebelumnya, dua orang mahasiswa lainnya, juga berasal dari fikom sebuah universitas ternama lainnya, berpenampilan sebaliknya. Berpakaian sackdress berbahan kaos di atas lutut ala kadarnya seperti akan pergi main dan bersepatu terepes lima puluh ribuan ala pasar blok m. Keduanya, bahkan berani mengenakan celana panjang dan bersandal selop terepes di hari pertama magang di kantor yang melarang semua pegawai perempuan dan siswa magang mengenakan celana panjang di hari senin. Tidak hanya itu, suatu hari keduanya ditemukan sedang merokok di salah satu ruang kerja di mana keduanya tengah magang, di jam kantor ! Betapa nekatnya. Saat keduanya diberi tugas, dengan cueknya mereka bertanya, "Sekarang bu ? Besok saja ya ?"

Sementara di waktu yang berbeda, dua orang mahasiswa magang yang lain, peserta program diploma sekretaris sebuah universitas ternama justeru punya performa kerja yang sangat baik dan luar biasa. Keduanya sangat cantik, sopan dan pintar. Hari pertama magang keduanya merampungkan kliping menjelang pukul 13.00 siang. Hari berikutnya, mereka sanggup menyelesaikan pembuatan kliping seperti yang disyaratkan, jam 09.00 pagi hingga hari terakhir mereka magang ! Kini, keduanya telah bekerja di sebuah bank bumn ternama.

Berbagai kejadian di atas merupakan fenomena, demikianlah kualitas para calon profesional humas di Indonesia. Bila dalam tataran masa studi saja para calon profesional humas tidak lebih baik dari mereka yang tidak berada dalam jalur kehumasan, bahkan pada tataran diploma, lalu mau jadi apa para calon sarjana komunikasi ini nanti ? Apa yang akan mereka jual ? Integritas tidak punya, kompetensi apalagi.
Memang, semua kisah di atas bukan berarti mencerminkan seluruh mahasiswa komunikasi khususnya kehumasan di Indonesia saat ini. Namun artinya, fenomena ini hendaknya menjadi cermin bagi seluruh mahasiswa calon profesional humas dan para pendidik agar sama-sama memiliki komitmen yang kuat agar memiliki integritas sebagai seorang profesional humas. It's never too late to learn. Jadi, selamat bekerja keras, maju terus, pantang menyerah !


STRATEGI KOMUNIKASI H1N1

Pertengahan April 2009 ini, dunia digemparkan dengan merebaknya pandemi penyakit flu babi yang disebabkan oleh virus H1N1. Kasus ini bermula dari tewasnya hampir 170 orang di Mexiko disebabkan terjangkit oleh penyakit yang mematikan ini.

Menteri Kesehatan RI, Siti Fadhilah menegaskan bahwa, penyebaran virus H1N1 ini memang lebih cepat daripada virus H1N5 yang menyebabkan penyakit flu burung (avian flue). Namun menurutnya, virus H1N1 ini tidak lebih ganas daripada virus H1N5. Sementara para dokter di berbagai daerah seperti yang ditayangkan di televisi, justru menyatakan sebaliknya. Para dokter yang penuh inisytaif melakukan kampanye di berbagai area publik ini menyatakan bahwa virus ini lebih membahayakan daripada virus H1N5. Mana yang benar ? Wallahualam bisawam ....

Mengamati dari penanganan kasus sebelumnya, Menkes mengutamakan strategi komunikasi yang mengarah pada pengelolaan opini publik untuk menghindari mobilisasi umum atau kepanikan. Maksudnya, pada penganganan kasus flu burung Menkes selalu meyakinkan seluruh masyarakat agar tidak perlu terlalu khawatir, dan segera menghubungi dokter serta rumah sakit rujukan kepada para penderita agar mendapat perawatan lebih lanjut. Strategi serupa juga dilakukan oleh Menkes dalam menanggapi kasus susu bubuk formula yang mengandung melamin.

Kini, dalam menghadapi kasus penyebaran virus H1N1, Menkes pun menggunakan jurus yang sama. Selain tentu saja tetap memperkuat jajarannya dengan pelayanan medis yang baik di seluruh Indonesia, menkes juga berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan pencegahan, khususnya dengan pengelola bandara sebagai entry point warga asing yang masuk ke wilayah Indonesia, yang berpotensi membawa virus penyakit tersebut.

Kabar baiknya tentang pandemi virus ini adalah, konon khabarnya virus ini masih 'beredar' hanya di wilayah eropa, dan belum memasuki wilayah asia. Namun, masalahnya kecurigaan Menkes perihal upaya dunia barat menjadikan Indonesia sebagai 'kelinci percobaaan' berbagai senjata biologis khususnya virus berbagai penyakit mematikan ini, perlu dicermati secara seksama. Belajar dari banyak kasus sebelumnya, dunia barat selama ini cenderung bersikap bahil kepada negara berkembang khususnya dunia Islam atau negara di belahan timur yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Sebagai rakyat biasa, tentulah kita menjalani hidup dengan penuh amanah sesuai tugas kita sebagai umat. Maka jadilah umat yang baik, jalankan syariat dengan sebenar-benarnya. Salah satunya dengan menjaga kebersihan, karena kebersihan adalah sebagaian dari iman. Begitu pun halnya dalam menghadapi penyebaran penyakit seperti saat ini. Islam mengajarkan, bahwa pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, saat Nabi menghadapi merebaknya penyakit yang membahayakan seperti ini, beliau menganjurkan seluruh umatnya untuk tidak bepergian ke luar wilayah untuk menghindari penyebaran penyakit secara lebih luas ke berbagai wilayah lainnya. Dari sinilah prinsip isolasi melahirkan penciptaan, pembangunan, pendirian, dan pengoperasian sebuah rumah sakit, yang terus dirasakan manfaatnya hingga sekarang. Begitulah Islam ....

Wednesday, 29 April 2009

KELUAR DARI "COMFORT ZONE"

Seringkali, tanpa disadari kita begitu betah di zona nyaman (comfort zone). Namanya juga zona nyaman, tentu saja menjadikan siapa pun yang berada di dalamnya merasa betah. Masalahnya, zona nyaman ini sesungguhnya menjadi bumerang yang mampu mematikan kreativitas dan kemampuan siapa pun penghuninya, tanpa disadarinya.

Silent killer, begitulah kira-kira julukan yang paling pas bagi situasi zona nyaman. Karena, akibat yang ditimbulkan dari zona nyaman ini baru diketahui biasanya setelah orang yang bersangkutan menyadari bahwa dirinya sudah tidak punya lagi nilai jual, sudah tertinggal, tidak competitive, tidak punya bargaining position yang bagus lagi.

Bagi mereka yang ingin melakukan totalitas dalam berkarir, maka sebaiknya berhati-hati dengan zona nyaman ini. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mengutamakan totalitas dalam berkarir, maka bekerja tentulah bukan sesuatu yang perlu diupayakan secara total.

TIPS ANTISIPASI MENGHADAPI ZONA NYAMAN :
  1. Pastikan, apakah pekerjaan yang saat ini anda tekuni adalah bidang pekerjaan yang paling anda idam-idamkan ;
  2. Lakukan evaluasi karir anda saat memasuki tahun ketiga, apakah sudah ada peningkatan atau belum. Bila tidak, anda harus berhati-hati ;
  3. Bila anda mencintai pekerjaan yang anda teknui saat ini dan hingga tahun ketiga belum ada kemajuan dalam jenjang karir anda, yakinkan diri anda untuk berani melakukan bargaining dengan atasan untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dan sesuai dengan kemampuan anda saat ini ;
  4. Bila tidak, segera kirimkan aplikasi ke perusahaan lain secara lebih selektif dengan pertimbangan pendapatan lebih baik, posisi lebih baik atau lebih baik keduanya ;
  5. Jangan terjebak dengan posisi tinggi di perusahaan kecil/lokal yang tidak pasti kelanjutannya. Sebaliknya, prioritaskan aplikasi anda di perusahaan yang well established ;
  6. Banyaklah bergaul dan bangunlah jaringan seluas mungkin. Pergaulan & jaringan yang luas membuat anda akan selalu mengikuti perkembangan dunia kerja ;
  7. Tingkatkan kemampuan diri anda dengan berbagai keahlian yang nyata, spesifik dan sesuai kebutuhan pasar/dunia kerja saat ini ;
  8. Perhatikan pertambahan usia anda, semakin bertambah usia anda, semakin kecil peluang anda dalam membangun karir, terlebih bila anda belum mempunyai pengalaman dalam manajerial sama sekali ;
  9. Fokus. Sangat penting membangun karir secara fokus sehingga menghasilkan 'track record' yang mengagumkan ;
  10. Miliki kepribadian yang menarik. Pandai saja tidak cukup. Seringkali, dalam dunia kerja lebih banyak mengandalkan faktor x ketimbang keahlian, kompetensi anda sesungguhnya. Kemampuan softskill anda biasanya lebih banyak membantu membangun karir anda atau sebalinya, meruntuhkan karir anda.

Banyak orang, tidak merasa bahwa dirinya tengah berada di zona nyaman. Itulah sebanya, jangan menutup diri anda dengan dunia luar, yaitu lingkungan selain lingkungan kerja anda saat ini. Selamat berjuang dan tetap semangat membangun karir anda !

Wednesday, 22 April 2009

TIPS BEKERJA BAGI PROFESIONAL HUMAS

Pada prinsipnya, profesi humas atau komunikasi dapat bekerja di institusi mana saja, sepanjang institusi tersebut kegiatan komunikasinya telah melembaga (state of being). Namun, bekerja di institusi yang mengandalkan peran komunikasi dengan bekerja di perusahaan yang menjadikan profesi humas atau peran komunikasi sebagai penunjang akan membawa dampak dan kepuasan yang sangat berbeda bagi para praktisi humas.

Bila seorang praktisi humas bekerja di perusahaan yang menjadikan bidang kehumasan hanya sebagai pelengkap atau pendukung saja, maka umumnya, kegiatan dan fungsi humas tidak dapat berperan secara optimal.

Sebaliknya, bila pra praktisi humas bekerja di perusahaan yang menjadikan bidang kehumasan sebagai usaha utamanya, maka para profesional humas dapat memperoleh kesempatan yang jauh lebih luas untuk berkontribusi dan berkembang. Selain itu, anggaran yang disediakan pun dengan sendirinya akan lebih relevan sehingga program-program yang disusun pun dapat terealisasi lebih maksimal.

Itulah sebabnya, para profesional humas harus pandai-pandai memilih pekerjaan yang tepat di perusahaan yang tepat pula. Hal ini sangat penting agar para profesional humas tidak terjebak dalam "zona nyaman" yang perlahan-lahan akan melunturkan kompetensi mereka sebagai seorang praktisi humas yang profesional.

Berikut ini adalah tips bagi para profesional humas dalam menentukan pilihan institusi atau tujuan tempat bekerja, sebagai berikut :

  1. Prioritaskan pilihan pada perusahaan yang usaha utamanya bergerak pada bidang komunikasi, misalnya industri media massa (televisi, radio, majalah, koran), dll.

  2. Prioritaskan pilihan pada perusahaan yang usaha utamanya sangat mengandalkan peran komunikasi, misalnya industri migas, transportasi udara, dll.

  3. Prioritaskan pilihan pada organisasi nir laba internasional yang menjadikan komunikasi sebagai penggerak program-programnya, misalnya organisasi badan internasional PBB (unesco, unicef, who, dll.), asean, green peace, dll.

  4. Prioritaskan pilihan pada institusi pemerintah yang sangat menyadari kebutuhan dan peranan komunikasi, misalnya departemen luar negeri, dll.

Selain bekerja di institusi yang prioritas seperti tersebut di atas, masih banyak institusi lain yang tidak kalah menarik, misalnya pekerjaan humas atau komunikasi yang berkaitan dengan consumer product, jasa layanan publik, gaya hidup atau periklanan dan perhotelan. Hanya saja, profesi-profesi tersebut mengsyaratkan jam kerja lebih banyak.

Pada kenyataannya, saat ini belum terlalu banyak profesional humas/komunikasi yang mumpuni di Indonesia. Maka, jadilah profesional yang punya nilai lebih, menguasai riset komunikasi, bahasa asing dan teknologi komunikasi bisa jadi nilai jual yang tinggi bagi para profesional humas/komunikasi dalam memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang fantastis. Jadi, selamat berjuang !

FENOMENA PARA PENERUS BANGSA

  1. Anak-anak sekolah tidak hafal Pancasila;
  2. Anak-anak sekolah tidak hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya;
  3. Anak-anak sekolah tidak hafal nama dan biografi para pahlawan nasional;
  4. Anak-anak sekolah tidak mengerti letak geografi dan keunggulan berbagai kota di tanah air;
  5. Anak-anak sekolah tidak hafal nama bandar udara dan atau dermaga berbagai kota di Indonesia;
  6. Anak-anak sekolah tidak hafal "Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945"
  7. Anak-anak sekolah tidak wajib mengikuti kegiatan pramuka;
  8. Anak-anak sekolah mengenakan seragam tidak secara wajar ; rok terlalu pendek, blus tidak dimasukan, hari senin tidak mengenakan sepatu hitam, rambut tidak rapi dan diikat dengan berbagai asesoris warna-warni, rambut dicat berwarna-warni, bahkan menggunakan make up;
  9. Anak-anak sekolah & mahasiswa semakin agresif dan temperamental;
  10. Anak-anak sekolah & mahsiswa tidak menguasai budaya daerah setempat ; berbahasa daerah, menguasai tarian daerah, menyanyikan lagu daerah, dst.

ORGANISASI PROFESI

Sebagai seorang profesional, para praktisi humas selayaknya bergabung dengan berbagai organisasi profesi kehumasan. Berbagai organisasi profesi yang relevan untuk diikuti oleh para profesional humas antara lain :
  1. ISKI (Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia), organisasi ini keberadaannya per-rayon (wilayah) ;
  2. Aspaskom (Asosiasi Paska Sarjana Komunikasi), koordinatornya oleh Universitas Indonesia;
  3. Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat), hubungi http://www.perhumas.or.id/
  4. Bakomumas (Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat), koordinatornya di bawah pengawasan Departemen Komunikasi dan Informasi, hubungi http://www.bakohumas.depkominfo.go.id/

Semoga, dengan bergabungnya para praktisi humas dengan berbagai organisasi profesional yang ada, dapat semakin meningkatkan kemampuan, wawasan, dan pengalaman para praktisi humas sehingga dapat berkontribusi lebih nyata kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam perjalannya mencapai cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Tuesday, 21 April 2009

SKKNI BIDANG KEHUMASAN, KOMPETENSI KHUSUS

KELOMPOK KOMPETENSI KHUSUS
  1. KOM. PR03.001.01, Melakasanakan Master of Ceremony
  2. KOM. PR03.002.01, Melaksanakan fungsi moderator
  3. KOM. PR03.003.01, Pertukaran informasi lisan dalam Bahasa Inggris
  4. KOM. PR03.004.01, Menulis dalam Bahasa Inggris
  5. KOM. PR03.005.01, Menyampaikan presentasi dalam Bahasa Inggris
  6. KOM. PR03.006.01, Merencanakan dan melaksanakan rapat
  7. KOM. PR03.007.01, Membuat anggaran laporan keuangan
  8. KOM. PR03.008.01, Memonitor kinerja staf
  9. KOM. PR03.009.01, Mengelola tim dan staf

SKKNI BIDANG KEHUMASAN, KOMPETENSI INTI

KELOMPOK KOMPETENSI INTI
  1. KOM. PR02.001.01, Membuat kliping
  2. KOM. PR02.002.01, Membuat dokumentasi perjalanan
  3. KOM. PR02.003.01, Melaksanakan kegiatan open house
  4. KOM. PR02.004.01, Melaksanakan kegiatan internal gathering
  5. KOM. PR02.005.01, Menyelenggarakan kompetisi
  6. KOM. PR02.006.01, Melaksanakan aktivitas protokoler
  7. KOM. PR02.007.01, Menyeleksi proposal sponsorship
  8. KOM. PR02.008.01, Melaksanakan ajang khusus
  9. KOM. PR02.009.01, Melaksanakan kegiatan seminar, konferensi, dan lokakarya
  10. KOM. PR02.010.01, Membuat materi ringkasan (briefing material)
  11. KOM. PR02.011.01, Memetakan media
  12. KOM. PR02.012.01, Monitoring media
  13. KOM. PR02.013.01, Membuat siaran pers
  14. KOM. PR02.014.01, Melaksanakan konferensi pers
  15. KOM. PR02.015.01, Melaksanakan media tour
  16. KOM. PR02.016.01, Menjalin hubungan dengan media
  17. KOM. PR02.017.01, Melaksanakan program darurat
  18. KOM. PR02.018.01, Membuat laporan program kehumasan
  19. KOM. PR02.019.01, Membuat proposal program/kegiatan kehumasan
  20. KOM. PR02.020.01, Membuat perencanaan program kehumasan
  21. KOM. PR02.021.01, Melakukan presentasi
  22. KOM. PR02.022.01, Melakukan pidato
  23. KOM. PR02.023.01, Menyusun naskah pidato
  24. KOM. PR02.024.01, Melakukan wawancara
  25. KOM. PR02.025.01, Membuat publikasi internal
  26. KOM. PR02.026.01, Membuat publikasi eksternal
  27. KOM. PR02.027.01, Menyusun data dan informasi strategis
  28. KOM. PR02.028.01, Membuat company profile
  29. KOM. PR02.029.01, Melaksanakan fungsi juru bicara/spokeperson
  30. KOM. PR02.030.01, Mengikuti pameran
  31. KOM. PR02.031.01, Merancang identitas organisasi/institusi
  32. KOM. PR02.032.01, Membuat laporan tahunan
  33. KOM. PR02.033.01, Melaksanakan program kemanusiaan
  34. KOM. PR02.034.01, Merancang evaluasi program kehumasan
  35. KOM. PR02.035.01, Melaksanakan pendekatan human relations
  36. KOM. PR02.036.01, Memberikan conselling
  37. KOM. PR02.037.01, Melakukan lobby
  38. KOM. PR02.038.01, Melakukan negosiasi
  39. KOM. PR02.039.01, Melakukan komunikasi dengan kelompok tertentu
  40. KOM. PR02.040.01, Memberikan sosialisasi dan edukasi stakeholders
  41. KOM. PR02.041.01, Melaksanakan community relations
  42. KOM. PR02.042.01, Melaksanakan investor relations
  43. KOM. PR02.043.01, Melakukan komunikasi dalam situasi krisis
  44. KOM. PR02.044.01, Mengelola isu negatif
  45. KOM. PR02.045.01, Membuat opini untuk media massa
  46. KOM. PR02.046.01, Manajemen isu dan pendapat umum
  47. KOM. PR02.047.01, Melaksanakan evaluasi kegiatan humas
  48. KOM. PR02.048.01, Menyelenggarakan pameran
  49. KOM. PR02.049.01, Menyelenggarakan cyber public relations
  50. KOM. PR02.050.01, Melaksanakan FGD (focus group discussion)
  51. KOM. PR02.051.01, Melaksanakan penelitian keterbacaan (study readability)
  52. KOM. PR02.052.01, Melaksanakan pengumpulan pendapat umum
  53. KOM. PR02.053.01, Melaksanakan analisisi isi (content analysis)
  54. KOM. PR02.054.01, Membuat mekanisme tatalaksana humas
  55. KOM. PR02.055.01, Mengelola bidang pekerjaan kehumasan

SKKNI BIDANG KEHUMASAN, KOMETENSI UMUM

KELOMPOK KOMPETENSI UMUM
  1. KOM. PR01.001.01, Mengakses & memanggil data komputer
  2. KOM. PR01.002.01, Membuat dokumen di komputer
  3. KOM. PR01.003.01, Merancang dan mengembankan dokumen, laporan dan lembra kerja dengan komputer
  4. KOM. PR01.004.01, Merencanakan penggunaan TI di bagian humas
  5. KOM. PR01.005.01, Melaksanakan koordinasi lintas fungsi dalam organisasi
  6. KOM. PR01.006.01, Menerapkan kepemimpinan (leadership)
  7. KOM. PR01.007.01, Melaksanakan prinsip-prinsip tata kelola organisasi yang baik (Good Corporate Governance)

Sunday, 12 April 2009

TIPS MENGUMPULKAN DATA MELALUI KUESIONER

  1. Kenali kharakteristik responden, kelebihan & kekurangannya, untuk menentukan cara pembagian kuesioner;
  2. Bila jumlah responden relatif besar & tersebar, gunakan petugas kuesioner tambahan;
  3. Lakukan pembagian kuesioner pada waktu yang bersamaan, untuk menghindari bias;
  4. Sediakan waktu yang cukup bagi responden untuk mengisi lembar kuesioner;
  5. Sediakan tempat yang nyaman, kursi, meja, alat tulis yang memudahkan responden;
  6. Lengkapi lembar kuesioner dengan petunjuk pengisian yang jelas;
  7. Lakukan simulasi sebelum responden melakukan pengisian;
  8. Lebihkan jumlah (%) sampel untuk menghindari pengembalian data responden yang tidak sempurna (sebagai pengganti);
  9. Berikan cenderamata sebagai ucapan terima kasih, bila memungkinkan;

Friday, 3 April 2009

SKKNI HUMAS INTI, KOM.PR02.013.01

Press Release atau Siaran Pers adalah lembar publikasi yang disiapkan oleh humas sebuah organisasi/perusahaan yang memuat berita mengenai pesan yang disampaikan dalam sebuah press conference (konferensi pers).

Sebagai sebuah produk komunikasi, pembuatan press release harus memperhatikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam penyajiannya. Dalam pelaksanaannya, press release dibagikan bersamaan dengan kegiatan konferensi pers, atau sebaiknya dibagikan kepada pekerja media sejak sebelum acara konferensi pers dimulai.
TIPS MEMBUAT PRESS RELEASE :

  1. Memenuhi unsur-unsur 5 W + 1 H
  2. Gunakan Bahasa Indonesia Jurnalistik yang baik namun tetap populis
  3. Disajikan dalam kertas berkepala surat dengan alamat organisasi/perusahaan resmi
  4. Mencantumkan hari dan tanggal
  5. Mencantumkan judul yang menarik
  6. Mencantumkan identitas petugas humas yang dapat dihubungi dengan mudah
  7. Upayakan tersaji dalam 1 (satu) lembar halaman

Press Release sangat berguna bagi pekerja media, dalam memperoleh informasi yang memadai mengenai topik yang akan disampaikan dalam konferensi pers. Selain itu, berbekal press release yang ada maka akan memudahkan para pekerja media dalam menggali informasi secara lebih luas melalui berbagai pertanyaan.

Untuk mendukung informasi yang disampaikan dalam press release, sebaiknya press release juga dilengkapi dengan berbagai data lainnya yang biasanya tersedia dalam bentuk media kit. Media kit ini dapat terdiri dari profil perusahaan, pilihan gambar dalam bentuk soft copy maupun hard copy, brosur, maupun contoh produk


KONFERENSI PERS

Konferensi Pers (Press Conference) merupakan kegiatan tatap muka yang diselenggarakan sebuah organisasi/perusahaan dengan pekerja media untuk menyampaikan isu, kebijakan, kemajuan dan hal-ihwal lainnya mengenai organisasi/perusahaan. Tujuan kegiatan konferensi pers adalah agar pesan-pesan organisasi/perusahaan dapat disebarluaskan, dipublikasikan dan diketahui masyarakat luas dengan perantara para pekerja media melalui penulisan atau penayangan berita di media massa masing-masing pekerja media (cetak, elektronik maupun audio visual).

PROSEDUR PENYELENGGARAAN KONFERENSI PERS

  1. Penentuan waktu (hari, tanggal & waktu pelaksanaan)
  2. Penentuan materi pesan yang akan disampaikan
  3. Penentuan komunikator/pembicara utama
  4. Penentuan komunikator/pembicara penunjang, bila dibutuhkan
  5. Penentuan strategi proses penyampaian pesan
  6. Penentuan daftar media massa yang akan diundang
  7. Pemberitahuan kepada pekerja media melalui undangan resmi
  8. Konfirmasi kehadiran tamu undangan
  9. Persiapan & pembuatan press release
  10. Pelaksanaan
  11. Evaluasi
TIPS PENYELENGGARAAN KONFERENSI PERS :

  1. WAKTU. Tentukan waktu penyelenggaraan secermat mungkin, sesuaikan dengan materi pesan yang akan disampaikan. Ingat : situasi & kondisi tempat & waktu penyelenggaraan dapat berpengaruh secara psikologis terhadap berkembangnya isu juga keberhasilan penyampaian pesan.
  2. UNDANGAN. Sebarkan undangan resmi secara tertulis jauh-jauh hari, maksimal 1 (satu) minggu sebelum acara. Bila perlu, ingatkan lagi melalui telepon atau sms.
  3. KONFIRMASI. Lakukan konfirmasi secara proaktif melalui telepon langsung.
  4. FOKUS. Batasi dan konsentrasi pada materi pesan yang akan disampaikan, kuasai dengan baik agar tidak terjadi pembicaraan yang melebar.
  5. PEMBICARA. Tentukan komunikator yang kompeten dengan permasalahan yang ada dan berikan trik-trik bagaimana menjadi pembicara publik yang efektif & menarik. Ingat : tidak setiap konferensi pers selalu tepat bila diwakili oleh pejabat humas sebagai pembicara.
  6. STRATEGI. Jaga dan patuhi komitmen tentang strategi komunikasi yang telah diarahkan oleh humas sebagai seorang profesional yang ahli di bidangnya, patuhi koridor yang ada. Ingat : utamakan satu suara sebagai sebuah corporate statement.
  7. PRESS RELEASE. Buatlah press release yang baik dengan mencantumkan identitas organisasi/perusahaan secara lengkap.
  8. RISET. Lakukan audit humas sebagai evaluasi keberhasilan dan citra terhadap penyelenggaraan konferensi pers. Lakukan pula audit program monitoring lingkungan sebagai evaluasi terhadap perkembangan isu pesan yang telah disampaikan mengenai perusahaan.
  9. EVALUASI. Evaluasilah hasil kegiatan konferensi pers yang telah digelar khususnya dalam hal pemberitaan atau ekspos media yang dipublikasikan berkaitan dengan konferensi pers tersebut. Walaupun kesuksesan sebuah kegiatan konferensi pers sangatlah relatif dan tidak dapat ditentukan oleh keberhasilan ekspos berita sehubungan dengan kegiatan konferensi pers tersebut, namun penting untuk tetap melakukan evaluasi untuk mengetahui hal-hal apa yang menyebabkan ekspos media tidak dilakukan seperti yang diharapkan oleh perusahaan (apakah ada hal yang lebih memiliki nilai berita, atau alasan lainnya).

Thursday, 2 April 2009

SKKNI HUMAS INTI, KOM.PRO2.003.001

Kegiatan open house merupakan salah satu program kegiatan humas eksternal. Di beberapa perusahaan, kegiatan open house intinya adalah kegiatan visiting factory atau kunjungan pabrik untuk melihat proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan.

Pada prakteknya, umumnya kegiatan Open House menjadi kebutuhan dan kepentingan banyak pihak dalam sebuah perusahaan/organisasi, bukan hanya menjadi kepentingan unit kerja humas saja. Namun pada prinsipnya, siapapun tamu yang berkunjung dalam kegiatan Open House, seyogyanya tetap menjadi perhatian dan diterima secara resmi oleh unit kerja humas yang dalam hal ini menjadi penghubung di antara keduanya.

Sebagai kegiatan yang diperuntukkan bagi publik eksternal, maka kelompok publik yang melakukan kunjungan dalam kegiatan open house ini biasanya :
  1. Pelanggan
  2. Pemerintah
  3. Media massa
  4. Masyarakat umum (pelajar)

PROSEDUR PENYELENGGARAAN OPEN HOUSE :
  1. Penerimaan para tamu oleh tim humas sebagai perwakilan manajemen. Prosesi penerimaan biasanya dilakukan secara resmi dalam sebuah ruang khusus dengan susunan acara yang baik;
  2. Pembagian kuesioner untuk mengukur brand awareness, bila diperlukan;
  3. Peninjauan ke area show case, display, bila ada;
  4. Peninjauan ke area produksi. Umumnya, sebuah perusahaan manufaktur akan memiliki area khusus untuk kegiatan peninjauan ini;
  5. Menyaksikan penayangan video profil perusahaan;
  6. Diskusi & tanya jawab;
  7. Pembagian cenderamata (bila ada);
  8. Evaluasi : Pembagian kuesioner untuk mengukur citra (audit humas) kegiatan Open House, bila diperlukan;
  9. Penutup;

TIPS MENYELENGGARAKAN OPEN HOUSE :

  1. Perhatikan waktu berlangsungnya kegiatan Open House, khususnya dalam kegiatan kunjungan pabrik. Sesuaikan dengan jam kerja pegawai, bila tidak ingin pengunjung kecewa karena proses produksi terhenti saat istirahat makan siang.
  2. Optimalkan kemampuan petugas humas sebagai sumber informasi yang mumpuni tentang kegiatan perusahaan, agar selama proses open house berlangsung, tamu memperoleh jawaban yang benar dan diplomatis tentang perusahaan/organisasi.
  3. Siapkan petugas humas dalam jumlah yang cukup, sesuai jumlah tamu yang hadir.
  4. Gunakan alat pengeras suara portable. Alat pengeras suara sangat mempengaruhi kesuksesan proses open house terlebih pada saat melakukan kunjungan pabrik.
  5. Gunakan layar lebar untuk menyaksikan video company profile dengan sound system yang baik. Penggunaan TV sangat tidak disarankan, kecuali tamu yang hadir kurang dari sepuluh orang.
  6. Sediakan moda transportasi, bila jarak ruang penerimaan dan area produksi berjauhan atau berbeda gedung.
  7. Bila hujan, sediakan payung yang cukup.

KLIPING

Dalam SKKNI Bidang Kehumasan, membuat kliping merupakan standarisasi inti pertama yang harus dikuasai oleh seorang petugas humas. Maksudnya, membuat kliping merupakan kegiatan paling mudah dari 70 (tujuh puluh) kompetensi yang disyaratkan dalam SKKNI Bidang Kehumasan bagi praktisi humas di Indonesia.
Kliping atau guntingan berita, merupakan kumpulan guntingan berita yang dimuat dalam media massa cetak baik surat kabar, tabloid, ataupun majalah, yang memuat berbagai isu yang berkaitan dengan kegiatan organisasi/perusahaan.
Sebagai kumpulan guntingan berita, kliping berguna bagi manajemen dan organisasi secara keseluruhan dalam memantau kondisi organisasi di mata publik sekaligus situasi sekitar organisasi secara lebih cepat, tanpa harus membaca seluruh media massa yang tersedia. Karena itu, tolok ukur dalam penyusunan produk kliping, yang paling utama adalah kecepatan dalam penyajian.
Kliping, disajikan dalam sebuah blangko kliping yang memuat :
  1. Kepala surat & unit kerja yang menerbitkan kliping
  2. Nama & logo perusahaan
  3. Hari & tanggal
  4. Nama & halaman media yang dikliping
  5. Topik berita yang dikliping
  6. Area "kesimpulan" & "saran"
  7. Identitas penanggung jawab kliping
  8. Ruang yang cukup untuk me"nempelkan" guntingan berita
PROSEDUR MENYUSUN KLIPING :
  1. Scanning media massa, baca secara cepat, pusatkan pada headline dan rubrik yang relevan dengan kegiatan organisasi. Bila dilakukan oleh seorang petugas humas, proses scanning untuk 6 - 10 surat kabar, maksimal dibutuhkan waktu 15 menit. Bila lebih banyak media massa yang harus dipilah, lakukan penambahan waktu secara proporsional, atau lakukan penambahan petugas humas;
  2. Salin berita yang sudah dipilih menggunakan mesin pengganda (foto kopi). Perhatikan : pembesaran atau pengecilan ukuran berita sesuai kebutuhan dan ketersediaan area kliping. Bila tulisan muncul dalam area kolom berita hanya sedikit & kecil, lakukan pembesaran secara wajar sehingga memudahkan bagi pembaca. Begitu pun sebaliknya;
  3. Lengkapi data kliping selengkap mungkin : hari & tanggal, sumber berita, media & halaman, serta topik berita;
  4. Buat kesimpulan berita. Perhatikan unsur 5 W + 1 H. Tambahkan saran atau komentar bila diperlukan. Saran & komentar sangat bermanfaat bagi manajemen dalam membuat keputusan yang dibutuhkan berkaitan dengan kliping yang ada;
  5. Cantumkan identitas penanggung jawab kliping.
  6. Penting : perhatikan pula estetika tampilan kliping seperti ukuran, komposisi dan kejelasan hasil salinan (foto kopi) sehingga secara keseluruhan kliping dapat dibaca dengan nyaman;
  7. Waktu. Selesaikan kliping maksimal pukul 09.00 dan sudah tersedia di meja BOD dan middle manajemen;
  8. Lakukan hal sama secara online;

Sunday, 29 March 2009

TIPS MELAKUKAN PENELITIAN

  1. Lakukan penelitian terhadap hal yang benar-benar menarik minat anda.
  2. Amati permasalah yang ada, setelah itu baru tentukan pendekatan dan metode penelitian sesuai permasalahan yang ada, apakah kualitatif atau kuantitaf. Jangan sebaliknya !
  3. Patuhi prosedur dalam metode penelitian, jangan sekali-kali memotong, mempermudah, mengurangi prosedur penelitian karena akan membuat hasil penelitian anda menjadi bias.
  4. Peneliti mempunyai otoritas untuk membatasi wilayah, area, atau waktu penelitian, tapi bukan memotong metodeloginya.
  5. Lakukan teknik sampling dengan benar, apakah dari kelompok acak atau non acak.
  6. Bila melakukan teknik sampling seacara acak, tentukan besaran sampel dari populasi dengan persentase (%) bukan besaran jumlah (misalnya 10, 25, 23, 73, dst) dari populasi. Penentuan teknik sampling yang salah akan membuat penelitian anda menjadi bias.
  7. Tentukan karakter populasi, sampel & responden dengan pertimbangan yang paling relevan, sehingga hasil penenelitian dapat menggambarkan kausalitas atau hubungan permasalahan secara komperehensif.
  8. Ingat : semakin heterogen populasi, semakin banyak sampel yang dibutuhkan. Semakin homogen populasi, semakin sedikit sampel yang dibutuhkan.
  9. Bila menggunakan instrumen kuesioner, proses pengisian kuesioner oleh responden sebaiknya dalam pengawasan atau ditunggu. Bila kuesioner ditinggal kemungkinan bias sangat besar karena bisa saja pengisian kuesioner dilakukan oleh orang lain (keluarga terdekat, anak buah, dll).
  10. Sabar dan tekun serta nikmati penelitian anda. Penelitian adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan. Bila anda mampu melakukan penelitian dengan benar, anda mampu mengalahkan diri sendiri dengan kejujuran.
  11. JADILAH PENELITI SEJATI

SELAMAT MENELITI !

TIPS MEMBUAT KUESIONER

  1. Pastikan format pertanyaan sesuai kebutuhan, terbuka (isian) atau tertutup (pilihan)
  2. Jangan mengarahkan pertanyaan pada sikap tertentu
  3. Jangan menyusun kalimat pertanyaan terlalu panjang
  4. Jangan mengajukan pertanyaan terlalu banyak, yang penting mampu menjaring unsur-unsur yang akan diteliti
  5. Bila menggunakan skor, pastikan menggunakan ukuran yang sesuai metodelogi apakah likert (1 - 5), apakah semantik (1 - 7)
  6. Jangan menggunakan font & ukuran yang terlalu kecil

Saturday, 28 March 2009

RISET HUBUNGAN MASYARAKAT (HUMAS)

Proses hubungan masyarakat menegaskan model 4 (empat) langkah penting, meliputi :
  1. MENENTUKAN RUMUSAN MASALAH HUMAS
  2. MERENCANAKAN PROGRAM HUMAS
  3. MENGIMPLEMENTASIKAN PROGRAM MELALUI KEGIATAN & KOMUNIKASI
  4. EVALUASI PROGRAM

Langkah pertama dalam proses humas yaitu pengumpulan informasi untuk membantu merumuskan dan mencegah kemungkinan munculnya masalah-masalah humas. Beberapa teknik yang sangat berguna dalam tahap ini adalah :

  1. Environmental Monitoring Program (boundery scanning)
  2. Public Relations Audit (audit humas)
  3. Communication Audit (audit komunikasi)
  4. Social Audit (audit sosial)

Audit Program Monitoring Lingkungan berguna dalam mengukur isu yang berkembang mengenai sebuah organisasi. Audit ini meliputi 2 (dua) tahap yaitu Early Warning Phase dan Tracking Public Opinion Phase.

Public Relations Audit berguna dalam mengukur citra organisasi melalui berbagai cara dan kegiatan.

Audit Komunikasi berguna untuk mengukur efektivitas media komunikasi yang digunakan humas dalam menyampaikan pesan-pesannya kepada publik. Pengukuran ini ndapat dilakukan terhadap media komunikasi cetak maupun eletronik. Audit Komunikasi meliputi 2 (dua) pendekatan, Teori Cloze Procedure & Teori Flasch. Cloze Procedure mengukur keterbacaan pesan melalui teks berdasarkan penggunaan satuan kata, sementara Teori Flasch, berdasarkan penggunaan satuan suku kata dalam sebuah pesan.

Audit Sosial berguna dalam mengukur kebijakan organisasi yang berdampak pada lingkungan atau publik di sekitarnya.

Audit Humas : CITRA PERUSAHAAN XXX MELALUI KEGIATAN OPEN HOUSE DI MATA PELANGGAN UTAMA

ABSTRAKSI
Pengukuran citra sebuah organisasi dapat dilakukan melalui berbagai cara atau kegiatan, salah satunya, melalui kegiatan "open house". Perusahaan XXX mempunyai program humas eksternal open house dan telah menyelenggarakan kegiatan ini secara rutin. Kegiatan open house terbuka bagi berbagai kelompok publik eksternal, baik dari kelompok pelanggan, pemerintah, media massa, hingga pelajar (SD sd. perguruan tinggi).
Sebagai sebuah organisasi yang mencari laba, maka citra perusahaan XXX di mata pelanggan utama menjadi sangat penting. Untuk itulah, pengukuran citra melalui kegiatan open house perusahaan XXX di mata pelanggan utama menjadi salah satu tolok ukur penting citra perusahaan di mata publik eksternalnya. Berdasarkan pertimbangan itulah, audit humas ini mengukur citra perusahaan xxx melalui kegiatan open house, meliputi hal-hal sebagai berikut :
  1. Persiapan penyelenggaraan kunjungan;
  2. Situasi lobi di area kunjungan ;
  3. Kronologi proses kegiatan perusahaan;
  4. Situasi kerja;
  5. Kondisi area peninjauan;
  6. Penayangan video company profile;
  7. Kompetensi petugas humas;
  8. Alokasi waktu;
  9. Fasilitas humas;
  10. Fasilitas umum

Penelitian ini menggunakan metode Audit Hubungan Masyarakat, dengan instrumen lembar kuesioner. Pengukuran citra dilakukan dengan cara penilaian yang dilakukan oleh responden terhadap setiap kegiatan open house yang meliputi sepuluh variabel di atas. Penyusunan sejumlah pertanyaan disajikan secara tertutup dengan peluang pemberian skor menggunakan skala semantik (1 - 7). Untuk menjaga reliabilitas penilaian responden, maka pembagian kuesioner dilakukan setelah serangkaian kegiatan open house diselenggarakan.

Berdasarkan hasil audit, dapat disimpulkan bahwa citra perusahaan xxx melalui kegiatan open house di mata pelanggan utamanya cenderung rendah. Hal ini terbukti dari rendahnya penilaian responden terhadap seluruh variabel yang diukur.

Audit Hubungan Masyarakat - ideal electric company, mengisyaratkan skor 7 bagi citra yang dikategorikan baik. Sementara berdasarkan hasil audit diperoleh bahwa dari sepuluh variabel yang dikur, diketahui bahwa actual electric company sebagian besar variabel menunjukkan skor jauh di bawah ideal, yaitu berkisar di angka 4.5 - 5.5 (100%).

Audit Program Monitoring Lingkungan : KECENDERUNGAN ISU & ARAH ISU DILIHAT DARI SUMBER BERITANYA

Analisis Isi Kasus Bupati Kampar dalam Pemberitaan Harian Kompas

ABSTRAK
Kasus Bupati Kampar (2004) berawal dari pengusiran yang dilakukan Bupati Kampar, JN terhadap salah seorang guru teladan Tingkat Nasional yang juga seorang Kepala Sekolah SMU Negeri 2 Air Tiris (AL). Seperti yang diterbitkan oleh Harian Kompas (11 Feb), peristiwa itu terjadi di tengah-tengah dialog antara Bupati dengan para guru se-Kabupaten Kampar pada Kamis, 5 Februari 2004. Tindakan pengusiran yang dilakukan oleh Bupati menyebabkan munculnya berbagai persoalan atau isu sehubungan dengan peristiwa tersebut.
Sesuai gejala yang ditemui, maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sebagian dari Metode Audit Program Monitoring Lingkungan atau Environment Monitoring Audit Program, yaitu pada Tahap Peringatan Dini (Early Warning Phase). Sebagai penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kecenderungan pendapat umum yang dimuat dalam media massa dalam hal ini Harian Kompas, maka penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi analisis isi, dengan tetap mengacu pada gejala-gejala pendapat umum, yaitu adanya isu (tahap munculnya isu), adanya pro dan kontra (tahap diskusi) dan adanya sejumlah orang penting (tahap upaya kesepakatan).
Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persoalan unjuk rasa merupakan isu yang paling sering muncul dalam berita kasus Bupati Kampar. Sementara kecenderungan arah isu pemberitaan tersebut sebagian besar menunjukkan arahnya adalah negatif. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemerintah daerah merupakan pihak yang paling sering muncul sebagai sumber berita dalam kasus ini.
Berkaitan dengan fungsi pes dan kinerja para editor media massa, hasil penelitian ini memperlihatkan adanya proses penetapan agenda (Agenda Setting) dan Teori Struktural Fungsional yang dilakukan harian Kompas dalam memberitakan kasus ini. Jadi, terjadi sinergi antara agenda media massa, agenda publik dan agenda keijakan saat agenda kebijakan yang dibuat oleh elit didasarkan oleh agenda publik yang tercermin dan disalurkan media massa sesuai agenda pemberitaan media massa tersebut.
Hasil penelitian ini pun menunjukkan kesesuaian dengan kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan kasus ini. Isu unjuk rasa sebagai isu yang paling sering muncul telah menjadi pertimbangan utama Mendagri dalam memenuhi tuntutan untuk menonaktifkan Bupati dan Wakil Bupati Kampar.
Atas dasar temuan ini, disarankan untuk menerapkan Audit Program Monitoring Lingkungan khususnya tahap Peringatan Dini (Early Warning Phase) untuk mengetahui gejala awal khususnya mengenai pendapat umum atau peristiwa-peristiwa sosial lainnya yang mungkin memiliki pengaruh penting bagi sebuah organisasi atau institusi.

Audit Komunikasi : KETERBACAAN TEKS MAJALAH XXX BAGI KARYAWAN PT. XXX

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Menyongsong era keterbukaan dan globalisasi saat ini, informasi menjadi sebuah kebutuhan yang diprioritaskan. PT. xxx menerbitkan medium internal yang berfungsi sebagai sarana komunikasi antar karyawan. Medium internal PT. xxx adalah buletin xxx.
Berawal dari berbagai gejala yang ditemui, peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : "BAGAIMANA KETERBACAAN TEKS MAJALAH XXX BAGI KARYAWAN PT. XXX".


B. TUJUAN & KEGUNAAN PENELITIAN
  1. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan keterbacaan teks majalah xxx bagi karyawan PT. xxx.
  2. Kegunaan penelitian ini secara akademis untuk menambah wawasan kajian mengenai isi media cetak, khususnya tentang pemahaman isi tekstual media cetak (keterbacaan). Kegunaan penelitian secara praktis adalah untuk memberi masukan majalah xxx mengenai keterbacaannya, khususnya pertimbangan dalam pembuatan teks.

C. KERANGKA TEORI
Penelitian mengenai keterbacaan teks ini meliputi beberapa hal penting :
  1. Buletin - Majalah : Terdapat perbedaan antara buletin dan majalah. Bila mengacu pada definisi secara teoritis, maka medium internal yang diterbitkan PT. xxx lebih tepat disebut sebagai majalah.
  2. Keterbacaan Teks : Penelitian ini menggunakan rumusan hasil penelitian Wilson L. Taylor (1953) yang disebut "Cloze Prosedur".

D. KESIMPULAN
Sesuai hasil penelitian, maka peneliti menyimpulkan bahwa keterbacaan teks majalah xxx bagi karyawan PT. xxx cenderung rendah (82%). Hal ini terlihat pada seluruh kelompok populasi yaitu pada karyawan dengan latar pendidikan SD (100%), SLTP (100%), SLTA (86%) & perguruan tinggi (66%).
Dugaan Taylor dalam Cloze Procedure adalah bahwa keterbacaan teks dapat dipengaruhi beberapa faktor, meliputi : organisasi teks secara keseluruhan, struktur kalimat, kelayakan kosakata, kesederhanaan kosakata dan redundancy kata. Artinya, dalam penelitian ini diduga, faktor-faktor tersebutlah yang mempengaruhi keterbacaan majalah xxx bagi karyawan PT. xxx.

Friday, 27 March 2009

STANDAR KOMPETENSI HUMAS

Efektif per Februari 2008 lalu, Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi (Depnakertrans) telah menetapkan Keputusan Menteri Nomor : KEP. 39/MEN/II/2008 tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Kehumasan. SKKNI Bidang Kehumasan disusun oleh Tim Panitia Kerja yang beranggotakan para profesional akademisi maupun praktisi bidang Komunikasi dan diketuai langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Republik Indonesia. SKKNI Bidang Kehumasan merupakan terobosan yang sangat positif bagi perkembangan profesi humas di Indonesia.

DAMPAK PROFESI MULTI-ENTRY
Globalisasi yang terjadi di seluruh belahan dunia saat ini telah menghilangkan sekat-sekat geografis sehingga mengakibatkan dunia seolah menjadi sebuah wilayah tanpa batas. Kehidupan yang serba mengglobal ini pada gilirannya mempengaruhi segala aspek kegiatan dunia usaha dan berbagai profesi di dalamnya tidak terkecuali profesi public relations.
Di Indonesia, ilmu Public Relations (PR) atau Kehumasan bisa jadi merupakan sebuah ilmu yang relatif baru dikenal dibandingkan berbagai disiplin ilmu yang lain. Namun di dunia, khususnya di negara-negara maju, Public Relations atau hubungan masyarakat (humas) merupakan profesi yang sangat bergengsi dan terus berkembang (emerging profession) secara pesat. Sayangnya, di Indonesia, public relations menjadi sebuah profesi yang multi-entry dicipliner di mana siapapun dapat memasuki profesi ini tanpa mengsyaratkan penguasaan keilmuan tertentu, yaitu ilmu komunikasi.
Saat ini, keberadaan profesi PR di dunia usaha pun terus mengalami peningkatan. Artinya, dunia usaha sedikit demi sedikit telah menyadari peran strategis PR tidak saja dalam membangun citra organisasi dan reputasi, tapi juga berkontribusi dalam penyelenggaraan tata kelola organisasi yang baik (Good Corporate Governance). Namun di lain pihak, peran para praktisi PR dalam institusi/organisasi di Indonesia pada umumnya belum berada di posisi dominan dalam pengambilan keputusan, termasuk keputusan yang berhubungan dengan peran strategis PR itu sendiri.
Dalam struktur organisasi, kedudukan departemen atau bagian PR belum berada pada level pimpinan/manajemen atau masih jauh dari pengambil keputusan. Kondisi tersebut, menyebabkan PR tidak dapat melaksanakan fungsi strategisnya sebagai salah satu fungsi manajemen. Akibatnya, penempatan SDM yang menjalankan fungsi PR belum didasarkan pada kompetensi PR dan hanya cenderung sebagai pelengkap saja.
Padahal, pada situasi yang sangat kompetitif saat ini, para profesional PR perlu melakukan perbaikan untuk meningkatkan kompetensi baik secara individul maupun institusional. Hal ini wajib diupayakan agar para profesional PR dapat berkontribusi lebih optimal sehingga mendapatkan penghargaan lebih baik sebagai profesional di dunia usaha. Hal inilah yang melatarbelakangi disusunnya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Kehumasan oleh pemerintah, dalam hal ini disusun oleh Departemen Komunikasi & Informasi Republik Indonesia dan ditetapkan oleh Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi Republik Indonesia.

KOMPETENSI vs PROFESI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kompetensi adalah 1) kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu); 2 Ling kemampuan menguasai gramatika suatu bahasa secara abstrak atau batiniah. Gati Gayatri, Kepala Puslibang Profesi, DEPKOMINFO dalam presentasinya mengenai “Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Profesi CIO” menjelaskan bahwa Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan pelatihan ekstensif, studi, dan penguasaan pengetahuan khusus, dan biasanya memiliki asosiasi profesional, kode etik, dan proses sertifikasi atau perijinan. Profesionalisme – elitisme power yang didefinisikan sendiri oleh komunitas profesi yang bersangkutan.
Adapun indikator profesi adalah :
1. Aplikasi ketrampilan berdasarkan pengetahuan khusus
2. Persyaratan pendidikan dan pelatihan tingkat lanjut atau “advanced”
3. Ujian formal kompetensi dan admisi yang terkontrol
4. Keberadaan asosiasi profesi
5. Keberadaan pedoman perilaku (code of conduct) atau etika
6. Keberadaan komitmen atau tuntutan atau rasa tanggungjawab untuk melayani publik.
Sementara indikator profesionalisme adalah :
1. Terlatih dengan baik (well-trained);
2. Sangat berkualitas;
3. Mampu bekerja keras dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan clients;
4. Dapat dipercaya (sesuai dengan gelar yang dimiliki)
Artinya, sebagai sebuah profesi, Public Relations atau Humas juga mempunyai koridor keilmuan tertentu yang perlu dihargai sebagaimana profesi lainnya seperti dokter, pengacara, psikolog, psikiater, insinyur, yang tidak sembarang orang dapat mengambil alih atau meng-hand-over pekerjaan atau profesi mereka tanpa memiliki keahlian khusus mengenai bidang itu. Mengapa, karena profesi PR juga memiliki persyaratan-persyaratan keilmuan yang tidak dapat diperoleh hanya dengan kursus singkat satu bulan atau seminar 1 hari, sebagaimana berbagai profesi lain mengsyaratkan proses pembelajaran yang sangat spesifik dan tidak sederhana.

SKKNI KEHUMASAN
SKKNI Bidang Kehumasan memuat mengenai 2 (dua) hal besar ; yaitu Daftar Unit Standar Kompetensi Bidang Kehumasan dan sertifikasi atau penggolongan petugas humas sesuai kompetensi.
Daftar Unit Standar Kompetensi Bidang Kehumasan terdiri dari 3 (tiga) kelompok, yaitu :
1. Kelompok Kompetensi Umum, terdiri dari 7 (tujuh) kompetensi
2. Kelompok Kompetensi Inti, terdiri dari 54 (lima puluh empat) kompetensi
3. Kelompok Kompetensi Khusus, terdiri dari 9 (sembilan) kompetensi

Sementara itu, berkaitan dengan penggolongan petugas humas, KEP Menarkertrans No. KEP. 39/MEN/II/2008 menetapkan sebagai berikut :
1. Sertifikat III (Humas Junior)
2. Sertfikat IV (Humas Madya)
3. Sertifikat V (Humas Ahli)
4. Sertfikat VI (Humas Manajerial)


Secara detail, kriteria masing-masing kompetensi dari setiap kelompok kompetensi maupun sertifikasi dijelaskan dan dapat dipelajari dalam KEP Menakertrans No. Kep. 39/MEN/II/2008. Rincian ini untuk mencegah terjadinya mutitafsir mengenai penyelenggaraan sebuah kegiatan sekaligus sebagai penyeragam tentang sebuah kompetensi bagi seluruh profesional humas di Indonesia.

SKKNI, SKI, KPI
Bila membandingkan Daftar Unit Kompetensi Bidang Kehumasan dengan implementasi di dunia emprisi selama ini maka terlihat, mungkin masih banyak pekerjaan yang sangat penting dan strategis yang belum terjangkau oleh banyak biro komunikasi di berbagai institusi di Indonesia. Sekedar mengingatkan saja, bahwa menurut Edward Louis Bernays & Ivy Lee, keduanya dikenal sebagai Bapak Humas Modern, menegaskan :
“... public relations as a management function which tabulates public attitudes, defines the policies, procedures and interests of an organization. . . followed by executing a program of action to earn public understanding and acceptance".
Today, "Public Relations is a set of management, supervisory, and technical functions that foster an organization's ability to strategically listen to, appreciate, and respond to those persons whose mutually beneficial relationships with the organization are necessary if it is to achieve its missions and values." Essentially it is a management function that focuses on two-way communication and fostering of mutually beneficial relationships between an organization and its publics.”


Jelaslah, bahwa public relations pada dasarnya adalah sebuah fungsi manajemen yang mengelompokan sikap publik, merumuskan kebijakan-kebijakan, prosedur dan minat atau tujuan organisasi ... diikuti oleh pelaksanaan program untuk menghasilkan pengertian dan penerimaan publik.
Saat ini, public relations adalah sebuah kesatuan dari manajemen, pengawasan dan fungsi-fungsi teknis yang membantu kemampuan sebuah organisasi untuk mendengarkan secara strategis, menghargai dan merespon kepada pihak-pihak di mana hubungan saling menguntungkan bagi organisasi menjadi penting jika hal itu dimaksudkan untuk mencapai misi-misi dan nilai-nilai perusahaan. Secara mendasar, hal ini merupakan fungsi manajemen yang memfokuskan dalam komunikasi dua arah dan membantu hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan publiknya.
Pada dunia empiris, SKKNI Bidang Kehumasan yang digulirkan pemerintah ini tentu menjadi sebuah panduan yang sangat membantu bagi dunia kerja khususnya dalam meningkatkan citra profesi humas itu sendiri. Artinya, SKKNI Bidang kehumasan sangat berguna dan memudahkan dalam menentukan peta kekuatan SDM, maupun SKI atau KPI dalam dunia kerja khususnya bagi profesi humas di berbagai instansi. Tidak hanya itu, dengan mengacu pada SKKNI maka institusi dapat menempatkan atau mengembalikan pekerjaan-pekerjaan yang bisa jadi selama ini bukan menjadi urusan kehumasan. Akhirnya, berbekal KEP Menakertrans No. 39/MEN/II/2008 ini maka institusi pun dapat memberikan apresiasi, reward (penghargaan) kepada setiap profesional PR secara obyektif, jujur dan transparan sesuai kompetensi atau sertifikasi tersebut.
Di Indonesia, mungkin belum semua profesi memiliki standar kompetensi kerja nasional karena pemerintah mungkin juga belum menetapkan untuk itu. Namun, SKKNI Bidang Kehumasan selayaknya disambut positif dunia usaha di Indonesia karena sangat bermanfaat dalam meningkatkan profesionalisme PR maupun institusional di seluruh Indonesia. Di masa yang akan datang, pemerintah akan terus melakukan pengembangan dan perbaikan SKKNI Bidang Kehumasan secara periodik mengikuti perkembangan jaman.
IT'S NOW OR NEVER
SKKNI Bidang Kehumasan sudah selayaknya disambut gembira oleh para praktisi kehumasan. Keberadaan SKKNI Kehumasan jelas sangat membantu profesi humas agar menjadi tuan rumah di bidang keilmuannya sendiri. Sebagaimana diketahui bersama, begitu banyak praktisi humas yang tidak memiliki latar belakang akademis yang relevan dengan profesi kehumasan. Akibatnya, para sarjana komunikasi pun terlewati oleh berbagai profesi lain yang dianggap mampu sebagai substitusi dan mengambil alih kue para praktisi humas yang berbekal akademis kehumasan atau komunikasi.
Sebaliknya, SKKNI Bidang Kehumasan pun dapat menjadi bumerang, bila para intelektual komunikasi tidak mampu bersaing dengan para praktisi humas yang sudah ada yang notabene memiliki kemampuan setara atau bahkan lebih baik dari para intelektual humas itu sendiri.
RESEARCH IS A MUST
Pekerjaan kehumasan pada dasarnya mengutamakan dan berorientasi pada riset. Artinya, nilai lebih inilah yang dimiliki para praktisi humas yang berlatar belakang ilmu komunikasi khususnya ilmu kehumasan. keunggulan ini tentu tidak dimiliki oleh praktisi lain yang tidak berlatar belakang akademis komunikasi atau kehumasan. Riset pula-lah yang menjadi salah satu kompetensi yang harsu dikuasai oleh profesional humas pada tingkat ahli dan manajerial.
Persoalannya, gejala yang ditemui saat ini di dunia pendidikan bidang komunikasi di Indonesia, tidak semua institusi pendidikan yang melahirkan sarjana komunikasi memiliki kemampuan yang digdaya mengenai riset komunikasi. Akibatnya, saat ini banyak sarjana komunikasi yang tidak menguasai riset komunikasi. Tentu, hal ini menjadi tugas rumah tersendiri yang sangat serius bagi para praktisi komunikasi di Indonesia. Bila hal ini tidak diperhatikan, maka SKKNI Bidang Kehumasan pun akan menjadi tidak berguna, karena sangat sedikit praktisi kehumasan yang mampu memenuhi kriteria kompetensi yang disyaratkan dalam SKKNI Bidang Kehumasan.
Tidak ada kata terlambat untuk belajar, it is never to late to learn. Jadi, mumpung segalanya sudah begitu sangat mudah, mengapa tidak segera kita lakukan perbaikan ? Bila tidak dimulai sekarang, bisa-bisa nanti insan humas profesional seperti kisah kutu yang berada di dalam kotak korek api. Ingin tahu ceritanya ? Selamat mencari tahu !